Indonesia telah berusia 71 tahun dan rezim penguasa sudah silih berganti. Namun, hingga saat ini rakyat belum merasakan seutuhnya cita-cita kemerdekaan yang termaktub dalam Pembukaan UUD 1945. Padahal, ekspektasi rakyat Indonesia sangat besar pasca kemenangan Jokowi-JK pada Pilpres 2014. Lewat Revolusi Mental, Nawa Cita dan konsep blusukanya, pemerintahan Jokowi-JK dapat dengan mudah meraih simpati rakyat. Kini setelah dua tahun berjalannya pemerintahan Jokowi-JK, patutlah kita mengevaluasi apakah sejauh ini pemerintah sudah berjalan sesuai janji-jani kampanye serta mempraktekan prinsip good governance?

Pada kesempatan ini, Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik (HIMAPOL) Indonesia menyelenggarakan diskusi publik pada Kamis, 20 Oktober 2016 di Aula Madya FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Turut mengundang  Agus Jabo Priyono (Ketua Umum Partai Rakyat Demokratik) dan Achmad Yusrizal (Ketua DPD Pospera Banten) sebagai narasumber dan Renaldy Akbar (Ketum HIMAPOL Indonesia) sebagai moderator.

Dalam melakukan refleksi, kita perlu mengetahui dasar filosofis adanya negara Indonesia yang tertuang dalam manifesto berupa UUD 1945 terkhusus konsep Trisakti yakni:
1. Berdaulat secara politik
2. Berdaulat secara ekonomi
3. Berkepribadian secara sosial budaya.

Kami mengapresiasi konsep Trisakti diwacanakan kembali saat kampanye Jokowi-JK di tahun 2014. Namun, dalam tataran realita, kita perlu melakukan refleksi; sejauh mana konsep Trisakti terimplementasi yang pada saat kampanye diserahkan oleh KPU?

Kami menyoroti adanya gap kepemilikan tanah yang semakin menganga. Dalam kata lain, kita tengah mengalami krisis agraria. Selain itu, banyak perjanjian internasional yang menjebak Indonesia untuk melakukan privatisasi BUMN. Ini merupakan konsekuensi demokrasi liberal yang diterapkan di Indonesia dimana menyeret demokrasi menjadi kediktaktoran kapitalis. Padahal, menurut Agus Jabo, Ketua Umum PRD, ini tidak sesuai dengan dasar filosofi Indonesia yakni demokrasi sosialis.

Sehingga saat ini, meskipun secara makro pertumbuhan Indonesia masih lebih baik dari negara lain, namun secara mikro, masih banyak ketimpangan dan ketidakadilan sosial ekonomi. Pada kondisi seperti ini, kita merindukan sosok Soekarno yang dada nya pasti akan bergemuruh ketika Indonesia dipersimpangan Asing, tanah nya diperjualbelikan, dan ketidakadilan menjadi tontonan yang wajar.  Untuk itu, momentum refleksi ini, kami merekomendasikan agar Jokowi-JK  lebih concern ke ekonomi mikro dan secara serisus menyelesaikan kriris agraria.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s