Merespon atas maraknya argumen-argumen moralistik yang belakangan kerap menjadi tulang punggung gerakan mahasiswa, adalah suatu hal yang paling krusial untuk mempertanyakan ulang terkait gelar ‘maha’ atas ke’siswa’an seorang mahasiswa. Konsekuensi sosial dari pengertian (maha)siswa pada akhirnya mempertegas posisi dirinya sebagai ‘kelas baru’ dalam masyarakat. Sebagai kelas baru, secara moral pelabelan-pelabelan heroik seperti ‘harapan bangsa’, ‘agen perubahan’, ‘moral force’ dan seterusnya dijadikan identitas kelas. Mahasiswa dianggap sebagai ras yang unggul, dan yang lainya rendah.

Barangkali, inilah sebab semakin teralienasinya gerakan mahasiswa dengan gerakan rakyat lain. Sebagai ras unggul, sebagaimana intelegensia versi Gie, mahasiswa diibaratkan petapa-petapa suci yang ada dilereng gunung, dan akan turun jika keadaan masyarakat terdesak. Mirip seorang koboi yang menolong warga saat dikepung para bandit. Alasan moral menjadi syarat dari adanya seorang mahasiswa. Idealisme ini, sebagai puncak filsafat borjuis mewabah dan menjadi basis filosofis mahasiswa. Akibatnya masing-masing kelompok mahasiswa tidak terkoneksi dengan baik karena satu sama lain merasa paling ideal, merasa paling merepresentasikan kelompok yang paling progresif dan lainya kontrev (baca: kontra revolusioner).

Kepercayaan mahasiswa atas label-label moralis yang didapat dari fakta-fakta kesejarahan mahasiswa pada orde sebelum-sebelumnya akhirnya menjadi suatu dogma, tidak pernah dipertanyakan. Argumen yang bersumber dari – meminjam bahasa Fourrier – “methodical myopia” yaitu suatu metode yang memperlakukan pertanyaan-pertanyaan fundamental tanpa melihat relasinya dengan keadaan pada saat ini dalam masyarakat secara keseluruhan. Kecendrungan pada pemujaan fakta-fakta tanpa melihat totalitas atas detail yang ada.

Radjab dalam “Panggung Mitologi dalam Hegemoni Negara: Gerakan Mahasiswa di Bawah Orde Baru” berupaya untuk menjelaskan gerak dialektis antara subjektifitas pelaku dan struktur ekonomi yang mendasari identitas sosial mahasiswa. Menurutnya, persepsi mahasiswa tentang peran sosial mereka dibuat tidak bertolak belakang dengan “ideologi” negara tentang mahasiswa. Mahasiswa menerima tawaran untuk memainkan peranannya dalam panggung dan lakon yang dikehendaki negara, dan sebaliknya negara mampu mengarahkan lakon seraya menjaga batas-batasnya. Label-label agent of change, kekuatan moral, harapan bangsa, dst merupakan mitologi yang diciptakan oleh hegemoni Negara Orde Baru (NOB) sebagai strategi rezim dalam upaya depolitisasi gerakan-gerakan perlawanan. Meskipun ada upaya demitologisasi, cerita-cerita heroik tentang peran sosial mahasiswa tetap melegenda dan lestari hingga saat ini.

Mitologi ini dipertahankan karena kita tidak pernah memeriksa struktur kelas mahasiswa sehingga posisi kelas mahasiswa akhrinya dikaburkan oleh hegemoni negara. Hal ini disebabkan karena ada paradoks dalam batas-batas kelas mahasiswa. Disatu pihak, mereka bukan bagian dari kelas pekerja tapi dilain pihak mereka justru berada didalam lembaga reproduksi kapitalisme, yakni universitas. Kalau pun ingin diperjelas, mahasiswa berada dalam situasi pra-kelas. Artinya, mahasiswa merupakan kelompok sosial yang memasuki suatu persiapan tahapan kelas yang khusus yakni semacam jalur yang berkaitan dengan karier dan profesi tertentu di masa depan.

Belum lagi, berubahnya corak kapitalisme dari bercorak industri menjadi pasca industri ikut mengubah tatanan global. Penambahan kata “neo” (baru) dalam liberalisme menjadikan semua hal dalam kehidupun dipaksa menggunakan logika mekanisme pasar. Salah satunya pendidikan. Dalam keadaan ini, universitas berusaha mengintergrasikan diri kedalam tatanan global sebagai ‘perusahaan sektor pendidikan’. Menurut Barahamin, ini menempatkan mahasiswa kedalam dua posisi yang saling berhubungan: sebagai pekerja (yang tidak dibayar), sekaligus komoditi. Karenanya, kampus berperan sebagai pabrik yang menciptakan kondisi-kondisi untuk mengelola calon-calon tenaga kerja. Dengan demikian, “arah obyektif” universitas bagi mahasiswa jadi jelas, yakni universitas merupakan eskalator untuk pengisian teknostruktur.

Akan tetapi, posisi kelas mahasiswa ini yang coba dikaburkan. Mahasiswa tidak pernah secara jujur menyatakan kepentingan objektifnya dalam aksi atau protes-protes mereka. Ketakutan ini diproduksi dari mitos-mitos label moralistik mahasiswa sehingga negara terus menghegemoni lewat diskursus ‘peran sosial’ mahasiswa sebagai kekuatan moral tanpa ada kepentingan politik. Ketika hegemoni argumen-argumen moralistik sudah semakin parah dan mewabah dikalangan mahasiswa seakan suatu dogma, kita peru melakukan kerja-kerja counter hegemoni. Perang posisi begitu bahasa Gramsci.

Ditulis oleh:

Renaldy Akbar

Ketua Umum HIMAPOLINDO 2016/2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s